
Tepat tidak ya analogi yang akan saya tuliskan di bawah ini. Cobalah cermati.
Keduanya siswa perempuan berusia 13 tahun, menjadi korban kekerasan teman lelaki sekelasnya. Perempuan pertama (Kaktus) membalas kekerasan tersebut dengan kekerasan yang sama, pukul di balas pukul, sapu dibalas sapu, ejekan dibalas ejekan. Sedangkan perempuan kedua (Putri Malu) membalas kekerasan dengan tangisan.
Dalam wacana feminisme, Kaktus menerapkan prinsip feminisme liberal, yaitu kesetaraan antara lelaki dan wanita dalam segala bidang. Sedangkan Putri Malu menerapkan ekofeminisme yaitu keharmonisan, tidak harus sama rata, bahkan bisa merupakan lawan dari sebuah sikap.
Antara feminisme liberal dengan ekofeminisme memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Feminisme liberal di satu sisi merupakan sebuah keputusan yang baik. Dalam Fiqh Islam ada istilah Qishas, bunuh dibalas bunuh. Namun di sisi lain, keadilan tidaklah harus sama. Uang saku anak TK tidak sebesar anak kuliah. Pernyataan terakhir tadi adalah pertimbangan ekofeminisme dalam hal kelebihannya.
Dari kedua paradigma tersebut, manakah yang paling tepat?
Menjawab pertanyaan itu tentu tidak mudah. Setiap situasi dan kondisi memiliki problem solving masing-masing. Contohnya kasus dua siswa perempuan tadi. Tindakan Kaktus, secara norma kesopanan yang telah disepakati di Indonesia, merupakan tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita. Wanita diidentikkan dengan tutur kata yang halus dan sikap yang lembut. Sedangkan lelaki diidentikkan dengan sikap yang keras dan tutur kata yang tegas.
Begitupula tindakan Putri Malu, walaupun secara norma kesopanan dapat ditolerir sebagai tindakan yang pantas bagi seorang wanita. Namun menurut hemat saya, tindakan itu terlalu lemah, artinya bukan sikap yang lembut. Lembut bukan berarti lemah. Kekerasan lelaki apabila hanya disikapi dengan tangisan, tidak akan mampu merubah kekerasan tersebut. Bisa jadi justru lelaki semakin suka melakukan kekerasan karena senang melihat perempuan menangis.
Namun kasus Putri Malu ada yang disikapi lain oleh lelaki. Tangisan perempuan justru mampu meluluhkan hati lelaki. Rayuan perempuan justru mampu melemahkan jiwa lelaki. Betapa banyak lelaki yang karirnya hancur karena perempuan. Sebut saja kasus mantan pimpinan KPK. Media sampai sekarang ini masih mempublikasikan kontroversi kasus tersebut.
Lalu apa yang musti dilakukan untuk menyikapi kekerasan yang terjadi pada kaum perempuan? Feminisme liberal ataukah ekofeminisme? Atau gabungan keduanya, atau tidak keduanya sama sekali?
Jawab!
