Rabu, 21 Oktober 2009

Feminisme liberal versus ekofeminisme


Tepat tidak ya analogi yang akan saya tuliskan di bawah ini. Cobalah cermati.
Keduanya siswa perempuan berusia 13 tahun, menjadi korban kekerasan teman lelaki sekelasnya. Perempuan pertama (Kaktus) membalas kekerasan tersebut dengan kekerasan yang sama, pukul di balas pukul, sapu dibalas sapu, ejekan dibalas ejekan. Sedangkan perempuan kedua (Putri Malu) membalas kekerasan dengan tangisan.

Dalam wacana feminisme, Kaktus menerapkan prinsip feminisme liberal, yaitu kesetaraan antara lelaki dan wanita dalam segala bidang. Sedangkan Putri Malu menerapkan ekofeminisme yaitu keharmonisan, tidak harus sama rata, bahkan bisa merupakan lawan dari sebuah sikap.

Antara feminisme liberal dengan ekofeminisme memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Feminisme liberal di satu sisi merupakan sebuah keputusan yang baik. Dalam Fiqh Islam ada istilah Qishas, bunuh dibalas bunuh. Namun di sisi lain, keadilan tidaklah harus sama. Uang saku anak TK tidak sebesar anak kuliah. Pernyataan terakhir tadi adalah pertimbangan ekofeminisme dalam hal kelebihannya.

Dari kedua paradigma tersebut, manakah yang paling tepat?

Menjawab pertanyaan itu tentu tidak mudah. Setiap situasi dan kondisi memiliki problem solving masing-masing. Contohnya kasus dua siswa perempuan tadi. Tindakan Kaktus, secara norma kesopanan yang telah disepakati di Indonesia, merupakan tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita. Wanita diidentikkan dengan tutur kata yang halus dan sikap yang lembut. Sedangkan lelaki diidentikkan dengan sikap yang keras dan tutur kata yang tegas.

Begitupula tindakan Putri Malu, walaupun secara norma kesopanan dapat ditolerir sebagai tindakan yang pantas bagi seorang wanita. Namun menurut hemat saya, tindakan itu terlalu lemah, artinya bukan sikap yang lembut. Lembut bukan berarti lemah. Kekerasan lelaki apabila hanya disikapi dengan tangisan, tidak akan mampu merubah kekerasan tersebut. Bisa jadi justru lelaki semakin suka melakukan kekerasan karena senang melihat perempuan menangis.

Namun kasus Putri Malu ada yang disikapi lain oleh lelaki. Tangisan perempuan justru mampu meluluhkan hati lelaki. Rayuan perempuan justru mampu melemahkan jiwa lelaki. Betapa banyak lelaki yang karirnya hancur karena perempuan. Sebut saja kasus mantan pimpinan KPK. Media sampai sekarang ini masih mempublikasikan kontroversi kasus tersebut.

Lalu apa yang musti dilakukan untuk menyikapi kekerasan yang terjadi pada kaum perempuan? Feminisme liberal ataukah ekofeminisme? Atau gabungan keduanya, atau tidak keduanya sama sekali?
Jawab!

Senin, 19 Oktober 2009

Tubuh Perempuan


Terlahir menjadi manusia merupakan anugerah yang sangat luar biasa. Namun terlahir menjadi perempuan ada bedanya dengan jenis kelamin lain. Saat lelaki dengan bebas bereskpresi sekehendaknya, perempuan tidak. Itulah pendapat sebagian perempuan.
Saya kaget, awal mula saya menapakkan kaki kembali di kampung kelahiran saya, sebuah kabupaten kecil, saya melihat seorang perempuan muda mengendarai sepeda motor mengenakan celana jeans ketat dan mini. Kaget karena saat pulang sebelum ini kampung saya masih terlihat santri dengan penduduknya yang sopan susila khususnya dari sisi busana.
Paradigma negative saya terhadap perempuan berbusana ketat dan mini terpengaruh oleh latar pendidikan saya yang selalu berinstitusi islam. Perempuan ideal adalah perempuan yang menutup auratnya saat berada di luar lingkungan mahramnya. Bagi saya, menutup aurat merupakan bagian dari menjaga kehormatan diri.
Lalu apa hubungannya dengan pernyataan saya di awal paragraf tadi? “Lelaki bebas berekspresi sedangkan perempuan tidak”. Mungkin para perempuan berbusana ketat dan mini, apabila ia memiliki kesadaran gender, sedang menunjukkan bahwa perempuan pun bebas berekspresi. Buktinya mereka dengan berani menunjukkan seni keindahan tubuhnya di khalayak umum. “Ekspresi Seni” begitulah dalihnya. Namun bagi sebagian perempuan yang menganggap bahwa seni tak hanya sebatas tubuh perempuan, mereka menganggap bahwa “Ekspresi Seni” tersebut justru merupakan tindakan bunuh diri.
Coba kita mengumpulkan artikel di surat kabar tentang pemerkosaan. Banyak kasus terjadi karena pihak perempuan memicu tindakan tersebut. Perempuan mempertontonkan kemolekan tubuhnya (porno) di khalayak umum sehingga mengundang birahi para hidung belang. Akhirnya, perempuanlah yang menjadi korban.
Selain menyaksikan secara mata telanjang, porno banyak pula tersebar melalui media cetak dan elektronik. Dari yang berharga murah sampai yang dikemas secara eksklusif. Anehnya subjek yang menjadi korban adalah perempuan. Apakah hal ini adalah komoditi oknum lelaki? Namun lebih aneh lagi, perempuan juga turut serta mendukung aksi porno ini, mereka sadar tidak sih?
Dengan dalih bebas berekspresi, perempuan-perempuan itu sungguh percaya diri, tanpa kesadaran bahwa tubuh mereka sedang dieksploitasi. Malah mereka bangga karena tubuhnya dipuja oleh orang banyak. Berbeda dengan lelaki, ketelanjangan lelaki justru dinilai sebagai perbuatan yang tidak menarik.
Ekspresi sebagai fitrah manusia, tiada dapat dibendung dan dibatasi. Namun ekspresi bukan sempit pada wilayah tubuh saja, toh masih luas lahan lain yang mampu menjadi kebebasan ekspresi perempuan.
Oleh sebab itu wahai perempuan marilah menjaga tubuh kita!

Selasa, 15 September 2009

Cintailah Diriku

Judul lagu Derbi Romero, memang, namun bukan itu yang akan saya bahas.

Optimis saya mengatakan bahwa Tuhan terlalu mencintai saya. Dia terlalu mencintai saya, sehingga tidak segera melepaskan saya. Tuhan selalu mengirimkan cinta ke dalam hati saya. Hati saya kini memiliki banyak cinta. Cinta dan selalu cinta takkan pernah berubah seumur hidup.

Banyak kawan yang bercerita selalu bisa loyal kepada kekasihnya, tetapi saya tidak. Pernahkah saya hanya bisa mencintai satu dzat saja, dan mengorbankan segalanya untuk dzat yang satu itu?! Tidak pernah! Saya selalu memiliki banyak cinta dengan prosentase yang berbeda-beda, dengan macam cinta yang berbeda-beda. Di satu sisi saya mencintai kekasih saya, di sisi lain saya mencintai hobby saya, di sisi lain saya mencintai ibu saya, di sisi lain lagi saya mencintai Tuhan. Saat saya sedang membenci Tuhan, ada cinta ibu. Saat sedang membenci kekasih, ada hobby. Asyik sekali!

Mudah jatuh cinta. Itulah diri saya. Pertama, saat saya berkunjung ke rumah seorang anak, saya temui di sana tak ada kecuali satu: kemelaratan. Saya jatuh cinta pada anak itu. Kuajak untuk selalu bersekolah. Biaya sekolah menjadi tanggung jawab saya. Kedua, saat saya menuntun simbah dari jalan raya menuju rumah, memakan waktu berjam-jam, sesampai di rumahnya saya menemukan kekayaan yang luar biasa, kekayaan hati, kekayaan doa, saya jatuh cinta kepada simbah saya, orang yang selalu mengucapkan, ”Barakallahu fi ’Umrik” setiap kali saya mencium tangan lembutnya. Ketiga, saat seorang salih datang kepada saya, tidak ada yang dia tawarkan kecuali aktifitas yang menyenangkan, mengajak saya melakukan kegiatan sosial. Saya tidak paham akankah kegiatan tersebut bermanfaat bagi saya, karena saya butuh uang untuk hidup, bukan jiwa sosialis. Namun entahlah dia sangat berpengaruh terhadap saya dalam sekejap saja. Perkenalan singkat yang membuat saya jatuh hati, sedikit.

Cinta bagi saya adalah anugerah, meski terkadang membuat mata saya berair, menangisi kecemburuan, saat orang-orang yang saya cintai menghilang. Namun lebih banyak bahagianya, karena selalu bisa tertawa. Maka terima kasih Tuhan, cinta ini akan selalu saya jaga, untuk-Mu.

Cintailah diriku Tuhan.

Tuhan Otoriter

“Kamu adalah calon istri idaman”. Kalimat itu satu-satunya yang terngiang di benak saya dari pernyataan seorang teman yang pada saat itu perasaan saya masih biasa-biasa saja. Lambat laun muncul juga rasa suka. Namun seiring hal tersebut, dia juga mencurahkan hatinya tentang seorang kekasih. Lalu tepat sebulan lalu dia mengabarkan kabar gembiranya kepadaku,”Aku akan menikah”.
”Haha, saya menertawakan-Mu Tuhan!” Tuhan menguji ketauhidan temanku itu, juga menguji loyalitasnya kepada kekasihnya, melalui saya! Saya rasa begitu.
Saya menertawakan Tuhan karena Ia berani mempermainkan perasaan saya. Dia yang paling tahu realita dunia ini di balik bumi yang saya pijak. Saya hanya tahu keadaan diri saya dan keadaan lingkungan saya. Saya sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan teman saya itu dan kekasihnya. Tuhan tak memberitahu saya!
Kini lolos sudah ujian ketauhidannya pada-Mu Tuhan dan loyalitasnya kepada kekasihnya, mereka telah menikah. Pernikahan yang islami dengan tujuan yang qurani. Sedangkan saya hanya bisa tertawa menerima otoritas Tuhan.
Namun satu hal yang selalu saya syukuri: Tuhan senantiasa meniupkan sedikit ruh asma’-Nya kepada saya, salah satunya al-Qawiy, sehingga saya selalu kuat dalam menjalani hidup ini. Bahkan Dia juga ternyata memberi apa yang saya mau: jalan yang berliku-liku, sesuai dengan identitas saya yang tak pernah mau mapan oleh kesenangan hidup. Seperti berangkat ke masjid, jalan yang panjang akan dinilai pahalanya lebih banyak daripada jalan yang pendek. Wallahu a’lam.

Senin, 07 September 2009

Ingin Bertapa

"Inginku bertapa". Kalimat itu saya sampaikan kepada adikku. Dia hanya menjawab,"Sana!" Haha saya tertawa pada jawabannya. Begitu apatis! Saya berharap dia menjawab lebih. Bertanya apa maksud saya dan lain sebagainya. Tetapi tidak. Saya jadi berfikir. Salahkah pernyataan saya? Saya cuma ingin mengasingkan diri dari kesenangan dunia, seperti sufi. Bersikap zuhud, penuh tawakkal, dan sabar banget. Saya terlalu lelah dengan keduniaan saya. Mencari uang, untuk apa? Toh rizki sudah ada Yang Mengatur. Saya tidak perlu berjuang sekuat tenaga untuk uang. Saya hanya membutuhkan makna, makna hidup yang selalu saya pertanyakan. Betapa berat kaki saya melangkah untuk kebaikan.

"Undangan Pengajian" begitulah judul surat yang sedang saya pegang ini. Pukul 13.00 siang ini. Telah gagal, gagal hadir di acara tersebut. Terlalu banyak alasan, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak berfikir. Padahal yang saya khawatirkan cuma satu, takut mereka menentang saya, tidak mau menerima saya, karena saya berbeda, saya berbeda dengan mereka."Biasanya kamu kan banyak apologi", kata teman saya saat mengetahui alasan saya tak datang. Saya cuma bisa menghembus nafas, MENYESAL.

Terlalu dalam pemikiran saya tentang hidup, melankolis. Hal-hal kecil bisa menjadi besar. Hal-hal yang tak dianggap penting bagi orang lain, menjadi penting bagi saya. Saya sebut diri saya orang yang belum mampu berpegang teguh terhadap kebenaran (menurut saya, kali ini menjadi pendukung teori relatifitas), apalagi mempengaruhi orang lain dengan kebenaran itu. Salut deh sama Rasulullah saw, meski diludahi, ditimpuk kotoran, dilempar batu sampai berdarah, tetapi beliau teguh pada Islam. Kapan ya bisa menjadi seperti beliau???

Akhirnya hanya kisah yang bisa saya sajikan, semoga bisa menjadi pelajaran bagi orang lain, agar teguh pendirian pada kebenaran yang sudah digali dan diyakini.

Keinginan bertapa, sesungguhnya hanya sebuah pelarian, atas realita yang sedang saya hadapi ini, yang tidak mampu saya lewati.