Selasa, 15 September 2009

Cintailah Diriku

Judul lagu Derbi Romero, memang, namun bukan itu yang akan saya bahas.

Optimis saya mengatakan bahwa Tuhan terlalu mencintai saya. Dia terlalu mencintai saya, sehingga tidak segera melepaskan saya. Tuhan selalu mengirimkan cinta ke dalam hati saya. Hati saya kini memiliki banyak cinta. Cinta dan selalu cinta takkan pernah berubah seumur hidup.

Banyak kawan yang bercerita selalu bisa loyal kepada kekasihnya, tetapi saya tidak. Pernahkah saya hanya bisa mencintai satu dzat saja, dan mengorbankan segalanya untuk dzat yang satu itu?! Tidak pernah! Saya selalu memiliki banyak cinta dengan prosentase yang berbeda-beda, dengan macam cinta yang berbeda-beda. Di satu sisi saya mencintai kekasih saya, di sisi lain saya mencintai hobby saya, di sisi lain saya mencintai ibu saya, di sisi lain lagi saya mencintai Tuhan. Saat saya sedang membenci Tuhan, ada cinta ibu. Saat sedang membenci kekasih, ada hobby. Asyik sekali!

Mudah jatuh cinta. Itulah diri saya. Pertama, saat saya berkunjung ke rumah seorang anak, saya temui di sana tak ada kecuali satu: kemelaratan. Saya jatuh cinta pada anak itu. Kuajak untuk selalu bersekolah. Biaya sekolah menjadi tanggung jawab saya. Kedua, saat saya menuntun simbah dari jalan raya menuju rumah, memakan waktu berjam-jam, sesampai di rumahnya saya menemukan kekayaan yang luar biasa, kekayaan hati, kekayaan doa, saya jatuh cinta kepada simbah saya, orang yang selalu mengucapkan, ”Barakallahu fi ’Umrik” setiap kali saya mencium tangan lembutnya. Ketiga, saat seorang salih datang kepada saya, tidak ada yang dia tawarkan kecuali aktifitas yang menyenangkan, mengajak saya melakukan kegiatan sosial. Saya tidak paham akankah kegiatan tersebut bermanfaat bagi saya, karena saya butuh uang untuk hidup, bukan jiwa sosialis. Namun entahlah dia sangat berpengaruh terhadap saya dalam sekejap saja. Perkenalan singkat yang membuat saya jatuh hati, sedikit.

Cinta bagi saya adalah anugerah, meski terkadang membuat mata saya berair, menangisi kecemburuan, saat orang-orang yang saya cintai menghilang. Namun lebih banyak bahagianya, karena selalu bisa tertawa. Maka terima kasih Tuhan, cinta ini akan selalu saya jaga, untuk-Mu.

Cintailah diriku Tuhan.

Tuhan Otoriter

“Kamu adalah calon istri idaman”. Kalimat itu satu-satunya yang terngiang di benak saya dari pernyataan seorang teman yang pada saat itu perasaan saya masih biasa-biasa saja. Lambat laun muncul juga rasa suka. Namun seiring hal tersebut, dia juga mencurahkan hatinya tentang seorang kekasih. Lalu tepat sebulan lalu dia mengabarkan kabar gembiranya kepadaku,”Aku akan menikah”.
”Haha, saya menertawakan-Mu Tuhan!” Tuhan menguji ketauhidan temanku itu, juga menguji loyalitasnya kepada kekasihnya, melalui saya! Saya rasa begitu.
Saya menertawakan Tuhan karena Ia berani mempermainkan perasaan saya. Dia yang paling tahu realita dunia ini di balik bumi yang saya pijak. Saya hanya tahu keadaan diri saya dan keadaan lingkungan saya. Saya sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan teman saya itu dan kekasihnya. Tuhan tak memberitahu saya!
Kini lolos sudah ujian ketauhidannya pada-Mu Tuhan dan loyalitasnya kepada kekasihnya, mereka telah menikah. Pernikahan yang islami dengan tujuan yang qurani. Sedangkan saya hanya bisa tertawa menerima otoritas Tuhan.
Namun satu hal yang selalu saya syukuri: Tuhan senantiasa meniupkan sedikit ruh asma’-Nya kepada saya, salah satunya al-Qawiy, sehingga saya selalu kuat dalam menjalani hidup ini. Bahkan Dia juga ternyata memberi apa yang saya mau: jalan yang berliku-liku, sesuai dengan identitas saya yang tak pernah mau mapan oleh kesenangan hidup. Seperti berangkat ke masjid, jalan yang panjang akan dinilai pahalanya lebih banyak daripada jalan yang pendek. Wallahu a’lam.

Senin, 07 September 2009

Ingin Bertapa

"Inginku bertapa". Kalimat itu saya sampaikan kepada adikku. Dia hanya menjawab,"Sana!" Haha saya tertawa pada jawabannya. Begitu apatis! Saya berharap dia menjawab lebih. Bertanya apa maksud saya dan lain sebagainya. Tetapi tidak. Saya jadi berfikir. Salahkah pernyataan saya? Saya cuma ingin mengasingkan diri dari kesenangan dunia, seperti sufi. Bersikap zuhud, penuh tawakkal, dan sabar banget. Saya terlalu lelah dengan keduniaan saya. Mencari uang, untuk apa? Toh rizki sudah ada Yang Mengatur. Saya tidak perlu berjuang sekuat tenaga untuk uang. Saya hanya membutuhkan makna, makna hidup yang selalu saya pertanyakan. Betapa berat kaki saya melangkah untuk kebaikan.

"Undangan Pengajian" begitulah judul surat yang sedang saya pegang ini. Pukul 13.00 siang ini. Telah gagal, gagal hadir di acara tersebut. Terlalu banyak alasan, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak berfikir. Padahal yang saya khawatirkan cuma satu, takut mereka menentang saya, tidak mau menerima saya, karena saya berbeda, saya berbeda dengan mereka."Biasanya kamu kan banyak apologi", kata teman saya saat mengetahui alasan saya tak datang. Saya cuma bisa menghembus nafas, MENYESAL.

Terlalu dalam pemikiran saya tentang hidup, melankolis. Hal-hal kecil bisa menjadi besar. Hal-hal yang tak dianggap penting bagi orang lain, menjadi penting bagi saya. Saya sebut diri saya orang yang belum mampu berpegang teguh terhadap kebenaran (menurut saya, kali ini menjadi pendukung teori relatifitas), apalagi mempengaruhi orang lain dengan kebenaran itu. Salut deh sama Rasulullah saw, meski diludahi, ditimpuk kotoran, dilempar batu sampai berdarah, tetapi beliau teguh pada Islam. Kapan ya bisa menjadi seperti beliau???

Akhirnya hanya kisah yang bisa saya sajikan, semoga bisa menjadi pelajaran bagi orang lain, agar teguh pendirian pada kebenaran yang sudah digali dan diyakini.

Keinginan bertapa, sesungguhnya hanya sebuah pelarian, atas realita yang sedang saya hadapi ini, yang tidak mampu saya lewati.